Author: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
264 halaman
Review ini akan mengandung SPOILER yg banyak sekali, jadi yg ga suka spoiler sebaiknya ga usah baca.
Ini salah satu buku yg juga dipinjem kakak gw dari reading walk. Gw baca waktu libur hari ini. Sehari selesai. Harus mulai darimana ya, soalnya gw merasa patah hati setelah baca. Kecewa. Bukan dengan kualitas ceritanya, tapi sepertinya Tere Liye memang hobi bikin pembacanya patah hati dengan kondisi karakter2 di bukunya. Ini buku ketiga Tere Liye yg gw baca. Pertama, The Gogons, lalu yg kedua Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.
Pertama kali membaca halaman pertama, gw langsung menebak, bahwa lokasi "toko buku terbesar di kota ini" adalah Gramedia Depok. Tebakan yang langsung dibenarkan di halaman berikutnya yg menyebut nama Margonda. Nama Gramed ga pernah disebut, begitu juga nama Depok cuma sekali-dua kali disebut. Yah, mari mengulur waktu dulu dengan bahas hal-hal yg ringan.
Cerita berformat flashback untuk hampir semua bagian, dan plot di saat ini meneruskan ceritanya, di saat-saat penentuan. Flashback yg sebagian besar terjadi selagi tokoh utamanya berdiri di lantai 2 Gramed Depok untuk memandangi pemandangan jalan di bawahnya. Ah, gw jadi kepengen kesana, udah lama juga. OOT.