Sunday, September 22, 2013

[Review Buku] reasons


Author: Aditia Yudis
Penerbit: teen@noura
332 halaman

Buku bacaan Reight book club edisi September.

Plot:

Adeline dan Amber, dua cewek yg bersekolah di tempat yang sama, sebelumnya ga terlalu kenal satu sama lain, masing-masing punya latar belakang dan permasalahan keluarga sendiri. Dan keduanya sama-sama ingin masuk ke UI, dan kebetulan sama-sama menjadi peserta lomba karya ilmiah, dimana pemenangnya akan langsung diterima di UI.

Konflik dimulai karena Adeline menjadi pemenang dan diterima di UI. Amber ga terima dia kalah dari Adeline. Ditambah tekanan berat dari orangtuanya yang memaksakan kehendak mereka, Amber merancang rencana jahat untuk Adeline. Dia dan teman baiknya, Marina, mulai menyebarkan gosip-gosip yang jelek tentang Adeline. Adeline awalnya berusaha untuk mengabaikan, tapi ketika ulah mereka makin menjadi dan menyebar gosip bahwa ibu Adeline gila, dia marah dan tidak tinggal diam. Konfrontasi terjadi antara Adeline dan Amber, yang menyebabkan iphone milik Amber terjatuh, dan kemudian dibalas oleh Amber yang merobek buku Adeline. Amber juga meminta Adeline mengganti iphone-nya yg rusak.



Padahal keuangan Adeline sendiri pas-pasan, dia harus menabung untuk biaya kuliahnya nanti. Demi menyelesaikan konflik dengan Amber, supaya dia berhenti mengganggunya, Adeline menggunakan uang tabungannya untuk mengganti hape Amber. Masalah di antara mereka pun (sementara) tuntas, ditambah lagi karena lulus, mereka tidak akan bertemu lagi di sekolah.

Setelah itu, mereka bersiap memasuki masa kuliah dan mencoba mengatasi masalah2 yang mereka alami. Adeline berhasil membiayai kuliahnya berkat pinjaman dari Bang Rizal, sekaligus bekerja di warnet miliknya bersama Sigit, kenalan Bang Rizal. Adeline dan Sigit pun berteman akrab.

Sementara Amber akhirnya juga berhasil kuliah di UI melalui jalur tes, meskipun tidak sesuai dengan jurusan yang dikehendaki orangtuanya. Amber memutuskan untuk pindah dari rumahnya dan tinggal bersama kakaknya, Abimantra.

Masalah antara Adeline dan Amber kembali muncul, ketika orang-orang di sekitar mereka saling berinteraksi. Amber yang naksir dengan Sigit, dan Abimantra yang naksir Adeline. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Adeline dan Amber kembali bentrok, dan menuntaskan konflik mereka yang belum selesai.

Review & Uneg-uneg:

To be honest, gw ga mengira kalo gw bakal suka sama ceritanya. Awalnya gw ragu, soalnya gw ga begitu ngefans sama gaya nulisnya adit yg biasanya mendayu-dayu di cerpennya. Bahasa yang digunakan di buku ini cukup lugas, ga bertele-tele.

Plotnya cukup padat. Selain Adeline dan Amber yang memiliki masalahnya sendiri, karakter2 pendukung yaitu Sigit dan Abimantra pun diberi masalah masing-masing, dan banyak detil-detil tentang mereka yang disajikan dengan komplit.

reasons, judul buku ini, sepertinya mengacu pada alasan-alasan di balik tindakan para tokohnya. Dimulai dari Amber yang dengan ganasnya berusaha menghancurkan Adeline. Itu terjadi karena dia sendiri tertekan oleh sikap orangtuanya yang pilih kasih. Mereka selalu membandingkannya dengan Abimantra, kakaknya, dan apapun prestasi yang diraih Amber, tidak pernah cukup buat mereka. Perlakuan orang tua yang seperti ini berbahaya sekali lho, bisa menyebabkan anaknya melakukan hal-hal mengerikan. Sudah ada contohnya di cerita lain, misalnya Loki yang merasa diabaikan Odin, dan Sasuke yang dibanding-bandingkan dengan Itachi. Hasilnya rusak kan.

Sedangkan Adeline yang sepanjang cerita sebenarnya sudah oke, mendekati akhir cerita kemudian ikut terpengaruh oleh pertikaiannya dengan Amber. Demi membalas perlakuan Amber, Adeline mengiriminya email dengan mengatasnamakan Sigit. Yang ga jelas alasannya mungkin si Marina itu. Cuma ngikut-ngikut dan ngomporin Amber.

Jadi, Adeline dan Amber punya masalah dan alasannya masing-masing, tapi menurut gw si Amber ini keterlaluan. Ga seharusnya masalah yang kita miliki menyebabkan kita menyakiti orang lain yg ga terlibat. Apalagi dia tahu kondisinya Adeline yg sama-sama sulit, bukannya bersimpati, malah menindas. Dan ada satu titik dimana Adeline kepikiran untuk bunuh diri. Kejam banget.

Setelah konflik mereka sempat reda, lalu berjuang dengan masalahnya sendiri, gw kira Amber bakal berubah. Ternyata belom. Begitu ketemu Adeline lagi, dia (dan Marina) masih sama jahatnya. Halaman 242, kalimatnya Marina, "Ngapain sih orang itu muncul lagi. Gue kira udah mampus deh, waktu kita kerjain dulu." Gw emosi baca bagian ini. (Kalo mungkin, gw akan nulis nama Amber, Marina, dan orangtuanya Amber di Death Note.)

Masalahnya Amber ini sendiri berasal dari orangtuanya yang brengsek. Orangtua yang ga memberi anaknya pilihan untuk menentukan masa depannya, dan ga menghargai anaknya.

Coba dipikir lagi deh. Mereka kesal dan ga puas gara2 Amber gagal masuk UI karena kalah di lomba karya ilmiah. Gw pengen bilang: YAELAHBROOO banget ini. Lomba itu kan cuma salah satu jalur untuk masuk ke UI. Seperti yg disebutkan, masih ada jalur lain, yaitu jalur undangan (istilahnya dulu PMDK) dan jalur tes (smptn). Lagian, jalur tes itu lebih bergengsi menurut gw, lebih mencerminkan kualitas si anak. Eeh, mereka malah mempermasalahkan hal ini. Masalah yang sebenarnya ga perlu dibesar-besarkan. Gara2 itu, Amber nyari sasaran pelampiasan pada Adeline, dan malah sibuk menghancurkan Adeline ketimbang belajar buat ujian masuk.

Haduh. Padahal kalo mereka bersikap normal, dan berpikiran jernih kalo masih ada jalur seleksi, masalah dengan Adeline tidak akan pernah ada. Tapi kalo begitu buku ini jadi ga ada isinya sih, haha.

Rating: 4/5

Point-point untuk General Discussion:

1. First Impression
Gw kirain ceritanya bakal boring dan mendayu-dayu, plus tadinya gw ga suka sama nama karakternya Abimantra. Aneh. Untungnya tidak.

2. How did you experience the book?
Buku yg gw beli ternyata cacat. Halamannya ada yg lompat dan ilang. Makanya gw putuskan untuk langsung baca hari ini sampe abis, soalnya kalo dikirim ulang utk dituker sama yg baru, takutnya makan waktu lama. Ada 16 halaman yg hilang di buku yg gw punya, dari halaman 155-170. Untungnya waktu itu udah pernah dikirimin draftnya sama adit, jadi di bagian yg hilang itu gw baca softcopynya, trus lanjut baca bukunya lagi. Setengah hari, bukunya selesai dibaca.

3. Characters
Karakter utama di buku ini dua cewek bernama Adeline dan Amber, yg melalui masa-masa akhir di SMA hingga kuliah di semester awal. Karakter pendukung, Sigit dan Abimantra. Lainnya, Marina, Rani, orangtuanya Amber, ibunya Adeline, dan Bang Rizal. Tiap karakter dibangun dengan baik. Karakter yg gw ga suka cuma Amber, Marina, sama orangtuanya Amber.

4. Plot
Linear.

5. POV
diceritakan dengan pov orang ketiga, yang silih berganti membahas Adeline dan Amber, sesekali membahas Abimantra dan Sigit.

6. Main Idea/Theme
Banyak yg bilang kalo temanya adalah impian, tapi menurut gw bukan. This is not about dream. This is about war. Perseteruan. Kalo tentang impian mereka yg pengen masuk UI, di pertengahan cerita udah selesai masalahnya, tapi malah lanjut, dengan perang di antara Amber dan Adeline. Perang bikin masing-masing pihak mengeluarkan sisi terburuk mereka, termasuk Adeline.

Gw jadi inget sama novelnya adit yg lain, Bittersweet Love. Ceritanya agak mirip, dua cewek yg saling bermusuhan karena keadaan.

7. Quotes
Ehm, menurut gw, quote yg "there is some good in this world" itu ga termasuk, karena itu kan quote Tolkien dari buku lain, yg dimasukin di sini.
Kalimat2 di buku ini sendiri ga banyak yang bisa dijadiin quote sih,  tapi ada satu yg gw tandain.
"Lain kali, kalau ada yang berani menindas lo seperti itu, cerita ya ke gue. Gue enggak suka yang kayak gitu." Sigit.

Trus ada satu lagi nih.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Meski begitu, setiap orang punya hak untuk mendapatkan maaf dan diberikan kesempatan kedua.
Err, lucu juga nih si Adeline membatin begitu, padahal dia ga ngasih kesempatan itu buat Abimantra.

8. Ending
Cukup memuaskan karena Adeline dan Amber (sepertinya) berdamai.

9. Questions
Hmm, ga ada

10. Benefits
Pelajaran yang bisa diambil:
Orangtua tidak boleh memaksakan kehendak pada anaknya.
Anak juga sebaiknya memiliki sikap dan pendirian yang teguh akan pilihannya.
Jangan melampiaskan masalah yang kita miliki ke orang lain yang tidak terlibat.
Tindakan penindasan harus dilawan, dan sebaiknya dilaporkan. Tapi jangan dibalas dengan cara2 kotor.

11. Lain-lainnya
- Penggunaan elemen2 fandomnya adit di buku ini, misalnya Star Trek, The Hobbit dll, tadinya gw pikir bakal mengganggu. Ternyata engga, karena banyak juga yg jadi bagian dari plot.
- Typo di buku ini ga terlalu banyak, palingan ada beberapa yg kurang spasi.
- Ada yg lebih mengganggu sih, yaitu penggunaan ", kan," yg ditaruh di tengah2 dialog. Penempatan tanda komanya menurut gw aneh. Tiap kali nemu ini, serasa mesti berhenti jalan sejenak, lalu lanjut lagi. Contoh: "Bukan bermaksud menguping, tetapi ini, kan, wilayah publik"
- Tentang dialog dimana Adeline ngomong aku-kamu sementara lawan bicaranya (Sigit) ngomong gue-lo, menurut gw ga masalah. Karena memang ada orang2 yg konsisten seperti itu.
- Overused word: kedai kopi. Ga ada istilah lain apa ya, lama2 bosen denger kata kedai kopi untuk menggambarkan Starbucks.
- Dan benar, ada dialog Amber-Marina yang kaku, padahal mereka ngomongnya gue-lo.


-OoO-

No comments:

Post a Comment