Tuesday, February 18, 2014

[Review Buku] Lost


Author: Eve Shi
Penerbit: GagasMedia
310 halaman


Waktu beberapa minggu lalu twit tentang cover buku ini muncul, gw tertantang. Gw janji bakal beli buku ini. Akhirnya setelah bukunya terbit dan gw pesen trus sampe, buku ini langsung gw baca mendahului buku2 lain di tumpukan.

Coba bayangkan.

Kamu lagi di dalam lift apartemen yg mendadak macet. Begitu pintunya terbuka, kamu ada di lobi, tapi kali ini, ga ada orang sama sekali. Kosong. Ga ada resepsionis, satpam, atau orang lainnya. Suasananya pun redup, remang-remang. Hingga kemudian ada suara orang yang memanggilmu. Petugas kebersihan di dalam lift. Kamu pun masuk ke dalam lift bersama petugas itu. Dia membelakangimu. Tadinya dia ngobrol biasa aja, lalu kemudian... makin lama suaranya makin parau, dan pantulan wajahnya memperlihatkan bercak hitam yg tadinya ga ada. Begitu tiba di lantai tujuan, kamu cepat-cepat keluar karena takut sama petugas tadi. Tapi begitu ingin membuka pintu kamar unit, ada suara petugas tadi... dari dalam kamar. Padahal dia tadi masih ada di dalam lift. Dan padahal, petugas itu adalah orang yang pernah bunuh diri di apartemen itu.

Adegan tadi cuma sebagian kecil dari isi buku, dan masih ada beberapa adegan lain yg lebih menegangkan. Oke.

Maura baru saja pindah ke apartemen Ilustre Casa, lantai 6, unit nomer 603, bersama kakaknya, Ryan. Ga butuh waktu lama, dia sudah mengalami kejadian-kejadian aneh. Mulai dari bak sampah yg krusuk-krusuk sendiri, suara tawa dari ruang tengah, rambut panjang yg tiba-tiba muncul di sisirnya, atau keran air yang menyala sendiri. Dan itu bukan yang terparah.

Kejadian berikutnya yg melibatkan petugas kebersihan yang sudah mati itu membawanya ke tetangga barunya di 601, seorang anak cowok sebayanya bernama Julian. Julian yang juga melihat kejadian2 aneh tadi memberitahunya tentang konsep tatar, atau istilah gw dimensi atau alam. Ada tatar yang dihuni manusia biasa, dan ada tatar-tatar lain yang dihuni mahluk lain. Dan batas antara tatar di apartemen ini menipis, yang menyebabkan Maura bisa tersesat ke tatar lain. Penyebab hal itulah yang kemudian mereka selidiki, yang kemungkinan besar berkaitan dengan penghuni 603 yang sebelumnya.

Semakin lama kita akan menemukan hal-hal yang bikin merinding. Tentang kemunculan-kemunculan yang tiba-tiba, tentang lorong-lorong yang gelap, tentang penghuni-penghuni apartemen ini. Mungkin semuanya akan terselesaikan, mungkin juga tidak.

(What the hell is wrong with this apartment?)

-OoO-

Ini buku horor kedua Eve Shi setelah Aku Tahu Kamu Hantu, yg juga sudah gw baca. Dari dua buku ini, gw bisa melihat ciri khas tulisan pengarangnya. Seperti halnya di ATKH, ada banyak (banget) karakter pendukung yg semuanya dikasih nama, lalu bahasa yg efektif to the point, dan karakter utama cewek yg likable. Maura ini seperti halnya Olivia di ATKH, pendiriannya kuat. Malah gw pikir, Lost ini semacam sekuelnya ATKH. Kalo ga, ya minimal masih berada di universe yg sama.

Yang juga bikin kagum adalah detail dan background tiap karakter pendukungnya. Semua karakter dikasih backgroundnya sendiri dan permasalahan sendiri, yang bikin buku ini ga cuma tentang horor apartemen berhantu aja. Sampe kepikiran, dari background tiap karakter ini, bisa diexplore lebih jauh dan dibikin ceritanya sendiri. Kita juga disuguhi seluk beluk dunia girlband karena Ryan, kakak Maura, adalah manajer salah satu girlband yg cukup terkenal. Lalu Maura juga ga melulu berurusan sama penampakan atau kejadian aneh. Dia juga punya masalah lain, dengan mantannya yg masih suka nyamperin dia, dengan temannya yg lagi sakit parah, dengan tetangga unitnya yg riang dan friendly. Dan ada satu hal positif yang didapat Maura. Dia kenalan dan dekat dengan Julian, penghuni unit 601. Interaksi antara Maura dengan Julian, dan dengan karakter lainnya menjadi hal yg menarik untuk diikutin.

Buku ini total berisi 41 bab yg ga begitu panjang, yang dikelompokkan ke 4 chapter.
Dark Corners: bab 1-9
Moving Shadows: 10-22
Poisonous Past: 23-32
Nowhere is Safe: 33-41
Seperti halnya ATKH, alurnya juga hanya berlangsung selama beberapa hari, kira-kira seminggu.

Klimaks pada buku ini tidak begitu menonjol, dan terkesan singkat. Menurut gw ga begitu masalah, karena adegan2 menegangkan sudah disebar merata di sepanjang cerita. Endingnya sih... menggantung. Tapi memang cerita horor biasanya memang begitu. Ga perlu dilanjutkan. Cukup diketahui bahwa ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan.

Tentang dialog, gw masih menemukan beberapa yg ga terdengar natural. Lo-gue dipadukan dengan kata kerja yg formal. Masalah yang juga gw temukan di buku-buku Gagas yg lain.

Lalu tentang kemasannya nih, covernya Sadako banget, meskipun sosok di cover itu ga ada di buku. Gw lebih konsen ke kertasnya sih. Kertasnya lebih tipis dan agak gelap, jika dibandingkan sama kertas yg biasanya dipake Gagas di buku lain (biasanya kertas Gagas kan tebel2 dan warnanya terang). Gw tanya ke penulisnya sih, katanya mungkin untuk menekan biaya produksi. Harapan gw bukan itu sih sebabnya, soalnya kalo tekan biaya produksi, kesannya ga adil. Perkiraan gw karena jenis kertasnya emang mendukung suasana di bukunya yg emang rada gelap. Kalo alasannya itu, gw akan puas sekali.

My Rating: 4 stars. Recommended sekali.

No comments:

Post a Comment