Saturday, January 18, 2014

[Review Buku] Rose Madder


alias: Wanita dalam Lukisan
Author: Stephen King
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
766 halaman

Buku ini gw beli 2 tahun lalu di IBF atau Pesta Buku Jakarta, entahlah apa waktu itu istilahnya, yg di Istora, bersama dengan buku2 lain. Harganya murah, cuma 20 ribu aja waktu itu. Buku ini jadi buku pertama yg gw baca dari paketan buku waktu itu. Juga buku Stephen King kedua yg gw baca, setelah waktu jaman kuliah baca Bag of Bones.

Okay. Ceritanya, Rose Daniels mengalami abuse dari suaminya, Norman Daniels, yg seorang polisi. Norman ini suka mukulin Rose di perut, pokoknya parah banget, tapi Rose terlalu takut buat ngelawan. Hingga akhirnya setelah 14 tahun pernikahan mereka, dia mendapati tetes darah di selimutnya (dari tenggorokannya), yang membuat dia memutuskan untuk pergi dari Norman. Kabur. Tak lupa membawa kartu ATM Norman untuk mengambil uang secukupnya, dia pergi terminal bis dan pindah ke kota lain. Tak lupa, Rose kembali menggunakan nama gadisnya, Rosie McClendon.

Rosie beruntung karena mendapat pertolongan dari orang asing yang menunjukkan tempat penampungan untuk wanita2 yang mengalami pelecehan seperti dia. Kehidupannya berangsur-angsur membaik. Dia mendapatkan pekerjaan yg bagus sebagai pembaca buku, memiliki apartemen sendiri (meskipun kecil), dan laki-laki yang jatuh cinta padanya. Serta lukisan wanita misterius yang memotivasinya sehingga menjadi lebih berani.

Yeah, bukan lukisan biasa. Lukisan yg suatu hari menjadi portal yang membawa Rosie ke dunia lain.

Sementara itu, Norman tidak tinggal diam. Dia berusaha mencari Rosie dengan skill analitiknya sebagai polisi. Norman menelusuri jejak Rosie ke orang2 yang ditemuinya. Korban pun berjatuhan, karena Norman adalah seorang psycho yg suka menggigit korbannya, dan entah apa lagi yg sanggup dilakukannya.

Kira-kira seperti itulah gambaran ceritanya.

Cerita menggunakan POV 3, mayoritas dari sisi Rosie dan Norman. Ada juga beberapa yang menceritakan dari tokoh lain, seperti Bill Steiner (pacar baru Rosie yg simpatik, sifatnya berbanding terbalik dengan Norman), Pam Haverford (teman Rosie dari rumah singgah), Pam Haverford (teman dari rumah singgah, dan pelindung anggota2 lain), Anna Stevenson (pemilik rumah singgah yg mengijinkan Rosie tinggal), dan Letnan Hale (polisi yang menangani kasus Rosie).

Buku ini memiliki genre campuran. Pada awal2 cerita, isinya adalah drama seorang istri yang melarikan diri dari suaminya yg abusive dan gila. Menurut gw, kalo ceritanya tentang ini saja udah bagus. Kemudian, genre ikut membawa fantasi ketika Rosie masuk ke dalam dunia di balik lukisan. Fantasi banget, kayak di The Ocean-nya Neil Gaiman. Kemudian ketika Norman memburu Rosie dan membunuh korbannya, cerita menjadi rada kriminal. Kemudian, di akhir, udah dicampur aduk aja. Menurut gw, entahlah, jadi rada kacau. I'm not sure it works.

Hal-hal lain yg gw dapet dari buku ini. Karakter Norman Daniels mengalami transformasi yg cukup aneh. Awalnya, Norman emang orang yg kejam dan brengsek luar biasa. Suka mukulin istrinya atas alasan sepele. Sebagai polisi pun dia brengsek. Pernah mukulin seorang yg ga ada hubungannya dengan kasus, bahkan sampai membunuhnya. Ini jenis manusia yang harus dimusnahkan secepatnya dari muka bumi. Kemudian diketahui kalau dulu sewaktu anak2, Norman mendapat perlakuan abusive dari ayahnya, yg menjelaskan perilakunya sekarang. Norman sering berbicara dengan suara2 di kepalanya, yg ternyata merupakan suara ayahnya. Ini bagian dari ketidakwarasan yg dimilikinya. Menjelang akhir, terjadi perubahan yg aneh, karena kegilaan Norman semakin parah. Dia yang memakai topeng banteng ala matador, menciptakan suara2 lain dari si banteng. Semacam kepribadian ganda, karena setelah itu Norman sering menngalami blackout dan kendali tubuhnya dipegang oleh kepribadian lain yg tidak kita ketahui. Karakter Norman ini menarik kalo dibahas dari sisi psikologi.

Gw baca buku ini nyicil2 seminggu baru selesai, paling banyak baca di dua hari waktu libur. Itupun yg harusnya selesai, nanggung 50an halaman karena sering ngantuk.

Alur di buku ini awalnya lambat, karena Rosie lamaa banget untuk pergi dari rumahnya. Sambil berdebat dengan suara hatinya (mirip sama Norman, cuma ga separah dia). Memasuki pertengahan dan bertemu dengan karakter2 baru dan perkembangan cerita mulai enak dibaca. Bagian paling berkesan buat gw adalah ketika Rosie memasuki dunia di balik lukisan untuk pertama kali, dan petualangannya selama semalam di sana.

Rating: 4/5.

No comments:

Post a Comment